Sunday, January 1, 2012

Tahun Baru 2012..

Tahun baru 2012 telah dimulai..harapan..langkah awal..dan pengalaman baru akan menanti dihadapan..Untuk sementara blog ini akan mengalami kevakuman hingga waktu yang tidak ditentukan..

Terima Kasih..

Thursday, December 22, 2011

Mission Impossible IV: Ghost Protocol

Hmm..tema ini diangkat setelah saya menyaksikan secara langsung film yang di bintangi oleh Tom Cruise ini di layar bioskop XXI, Metropole, atas saran seorang Professor bidang HI yang berasal dari Unpar..saya kenal beliau lewat tulisan-tulisannya dan juga pernah bertemu sewaktu beliau memberikan materi dalam diskusi terbatas di Deplu sewaktu saya magang dulu..beliau tidak mengenal saya, tapi saya pastinya mengenal beliau.

Oke, tidak untuk membahas karier beliau yang sempat kontroversional dulu pernah masuk media-media, saya ingin membahas mengenai film ini.

Oke, pertama dari segi akting..Film kali ini seperti film-film sebelumnya lebih menekankan kepada sosok agen Ethan Hunt, agen yang bisa dibilang sempurna, wajah tampan, skill luar biasa, dan bisa banyak bahasa, sehingga membuat karakter tokoh lainnya menjadi terhalangi silau kesempurnaannya..yah tidak apa-apalah mengingat film-film serupa juga terlalu mengedepankan sosok peran utama..

Nah, jika dilihat dari segi cerita, ini menurut saya sedikit basi. Tema yang diangkat lagi-lagi mengenai senjata nuklir. Tepatnya adanya pencurian kode nuklir yang dimiliki oleh Russia, sehingga dikhawatirkan oleh mereka akan terjadi perang nuklir. Sebenarnya saya agak kecewa, kenapa lagi-lagi tema nuklir yang diangkat?padahal jika mau mengangkat tema lain, justru mungkin akan lebih bagus. Contohnya seperti film Unknown, saya lupa pemainnya siapa, tetapi cukup menarik (atau setidaknya menarik menurut saya) karena dia mengangkat isu internasional kontemporer lainnya, yaitu kelangkaan pangan. Cerita mengenai upaya pembunuhan kepada seorang ilmuan yang berhasil menciptakan pangan hybrid atau teknologi yang akan mampu menutupi kelangkaan pangan ini justru menjadi menarik. Sedangkan tema nuklir, jika mau jujur, telah bagus disajikan dalam film The Sum of All fears karya Tom Clancy. Dimana juga dijabarkan teknik diplomasi tingkat tinggi saat dunia diambang perang nuklir, yang mana pembicaraan melibatkan kedua presiden, Amerika dan Russia, beserta satu orang ahli mengenai Russia, Professor Jack Ryan. Tema lain selain nuklir yang baik sebenarnya juga sudah diangkat baik oleh film MI III, sekuel sebelumnya dimana pesawat Drone milik Amerika juga ditampilkan. Atau mungkin tema yang diangkat la Femme Nikita, film yang dulu sering di putar di televisi Singapore waktu saya kecil..pernah suatu ketika mengangkat tema mengenai anthrax. Cukup kreatif..

Tema internasional kontemporer memang sering hot-hotnya diangkat. Selain untuk menimbulkan awareness kepada para penonton, juga dapat membuat penonton bertanya-tanya, apakah benar sebuah negara punya teknologi, atau intrik sedemikian rupa..seperti contohnya film "International" yang melibatkan organisasi interpol, film "Evelyn Salt" yang menceritakan tentang rencana pembunuhan Presiden Russia, Flm James Bond, tentang Korea Utara, tentang persenjataan nuklir di luar angkasa, film "Green Zone" tentang dibalik perang Irak, dan lain sebagainya. 

Kembali ke film di atas, apabila dapat diambil kesimpulan, film MI kali ini ini sebenarnya cukup worth it..karena shoting film ini dilakukan di berbagai negara seperti Budapest di Hongaria, Kremlin di Russia, Mumbai di India, hingga ke Burj khalifa di Dubai..selain itu aksi yang ditawarkan juga baru-baru dengan peralatan yang baru juga pastinya..namun untuk segi cerita kurang, intrik yang ditawarkan juga kurang, seharusnya bisa lebih complicated lagi mengingat ini film agen rahasia, yang berakibat kepada durasi film yang hanya 2 jam menjadi kurang juga..sehingga muncul anggapan menurut saya, film ini hanya mengandalkan kekuatan peran agen Hunt yang telah berhasil di citrakan sejak episode pertama, dan tentunya nama besar film Mission Impossible itu sendiri..tidak heran, memang karena cita-cita film ini nantinya untuk meraih keuntungan yang besar, yang mana Tom Cruise sendiri berani untuk menjadi produsernya.

Semoga film kelanjutan agen Ethan Hunt ini apabila dibuat kelanjutannya bisa lebih diperdalam lagi isunya, harapan saya, dan para pencinta film agen rahasia.


Jakarta, 22 Desember 2011.

Tuesday, December 20, 2011

Diplomat Otentik dan Analis Symbolik: Bekerja dengan Nurani

Ini bukan tulisan saya. Tulisan ini saya muat hanya untuk mengingatkan saya selalu karakter apa saja yang harus saya bangun ataupun perbaharui demi tercapainya karakter saya yang kuat di masa depan.
Akbarecht
 
-------------------------------
 
Diplomat Otentik dan Analis Symbolik: Bekerja dengan Nurani
 
“Character isn’t something you were born with and can’t change, like your fingerprints, it’s something you weren’t born with and must take responsibility for forming” (Jim Rohn).
Demikian benang merah yang disimpulkan oleh Direktur Keamanan Diplomatik, Kristanyo Hardojo pada kegiatan Sarasehan Pembentukan Watak dan Profesionalisme dengan tema, “Penguatan Watak dan Profesionalisme Pejabat Dinas Luar Negeri (PDLN) sebagai Aset Diplomasi”, di Bandung pada tanggal 7-9 November 2011. Sarasehan dihadiri sekitar  60 orang peserta dari berbagai satuan kerja di Kementerian Luar Negeri RI.
 
Sarasehan ditujukan sebagai salah satu sarana pembinaan watak dan profesionalisme, terutama kepada para diplomat yang akan ditugaskan di perwakilan – perwakilan RI di luar negeri. Harapannya, agar Diplomat Indonesia memiliki watak, mental, budi pekerti yang luhur sesuai dengan kebudayaan Indonesia, dan dapat melaksanakan misinya secara tegas, lugas dan profesional. 
 
Dalam kegiatan itu hadir sebagai narasumber: Sukardi Rinakit, Ph.D, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS); Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar dan Pakar Psikolog Universitas Indonesia; Budiarto Shambazy, editor senior Harian Kompas; Dr. Al. Andang L. Binawan, SJ. pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya, Jakarta; dan Duta Besar Yuli Mumpuni Widarso, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.
Dirjen IDP, A. M. Fachir menyampaikan pandangan dan harapannya terhadap diplomat Indonesia agar memiliki kesadaran, semangat dan energi untuk selalu melakukan perubahan sesuai dengan wewenangnya. Menurutnya, seorang diplomat harus kreatif, mampu berinovasi dan memiliki wawasan luas serta selalu bekerja beyond expectation, bukan hanya rutinitas. Pilihan menjadi seorang diplomat sekaligus PNS memiliki konsekuensi tersendiri: “Diplomat bukan pedagang yang mencari kekayaan, tetapi diplomat dapat menjadi “kaya” dengan memberi manfaat kepada orang lain. Untuk itu, diplomat perlu bekerja dengan hati nurani dan ikhlas,” tegasnya. 
 
Dubes Yuli Mumpuni dengan latar belakang pemahaman yang dalam tentang sejarah diplomasi dan teori-teori tentang bagaimana seorang diplomat yang baik, metantang para peserta sarasehan untuk dapat memenuhi karakteristik seorang diplomat profesional, yang: “...Coodinator, Solution Seeker, Citizen Protector, Negotiator, Intelligence Analyst, Lobbyist, Opportunity Seeker, Image Builder, Reporter, Mediator, Representative, and Promotor”
Tidak kalah menariknya, para narasumber menyampaikan berbagai paparan yang mampu menyegarkan kembali berbagai dimensi sifat, watak dan karakter yang patut dimiliki maupun dihindari oleh seorang Diplomat Indonesia. Sukardi Rinakit  mengharapkan Diplomat Indonesia mampu menjadi “diplomat otentik”, atau diplomat yang selalu sepenuh hati melaksanakan diplomasi dan memenangkan negosiasi tanpa mempermalukan pihak lawan, atau dalam istilah bahasa Jawa dikenal  “menang tanpa ngasorake” (menang tanpa mempermalukan lawan) dan memiliki etos “ngemong praja” (menjaga kehormatan pemerintah dan negara). Untuk mencapai dua hal tersebut, diperlukan penguasaan budaya dan  pemahaman alam bawah sadar (subconciousness) masyarakat negara akreditasi.
 
Sementara itu, psikolog ternama Prof. Sarlito W. Sarwono mengulas perlunya  Diplomat Indonesia memiliki kepercayaan diri yang tinggi, meningkatkan pengetahuan dan berwawasan luas, guna menjawab berbagai persoalan yang dihadapi  bangsa Indonesia secara komprehensif. Budiarto Shambazy, seorang lulusan Hawaii University, mengungkapkan bahwa Diplomat Indonesia harus menjadi manusia analis-simbolik yang mampu memecahkan masalah (problem-solver), teliti dan jeli (problem-identifier), memiliki daya pikir yang terlatih, skeptis (serba ingin tahu), dan kreatif. Menurutnya, dalam membentuk manusia analis-simbolik diperlukan proses panjang dan sistem pendidikan yang memadai, paling tidak setara dengan Amerika. Lebih dari itu diperlukan kemauan siap berkorban, proses pencerahan, dan elemen-elemen demokrasi. 
 
Sementara itu Andang Binawan, melengkapi acara sarasehan dengan menyatakan “Untuk menciptakan diplomat yang handal perlu diperhatikan proses pembinaan  pribadi maupun struktural secara utuh. Jika setengah hati atau setengah proses karena mengikuti ‘ritus’ pembinaan, maka yang akan muncul hanyalah diplomat-diplomat medioker. Saat ini Indonesia masih menjadi negara medioker, namun  diplomatnya bukanlah diplomat medioker”.
 
Watak dan karakter seorang Diplomat, memang tak luput dari pengalaman, lingkungan dan kebudayaan yang membentuknya. Namun, lebih dari itu, unsur yang tidak kalah pentingnya adalah diri manusia itu sendiri.(fa). (Sumber : Direktorat Kamdip)
 
--tabloid Diplomasi-

Friday, October 21, 2011

Berbagai Muka Scholarship

Tema ini sebenarnya merupakan tema lawas yang berhasil saya pikirkan beberapa tahun lalu tepatnya setelah membaca tulisan Bapak Abdul Irsan, mantan Duta Besar Indonesia, yang menuliskannya di dalam sebuah buku berjudul "Catatan harian seorang diplomat", yang mana buku tersebut saat ini sedang berada di salah satu teman.

Dalam salah satu paragraphnya, saya sebenarnya agak terkejut, ternyata ada juga pemikiran seperti ini, dan baru saya dengar pada saat itu. Tapi terima kasih kepada beliau jugalah, saat ini jadi menambah faktor-faktor lain dalam menganalisa persoalan khususnya isu-isu yang sesuai yang beliau bahas. Beliau mengatakan bahwa suatu beasiswa (scholarship) ke luar negeri sesungguhnya memiliki wajah lain. Saya menyebutnya berbagai wajah. Di satu sisi, beasiswa mungkin memberikan suatu prestise tersendiri bagi yang menerima, karena dengan diterimanya dia untuk mendapatkan beasiswa, maka secara tidak langsung menyatakan bahwa dirinya adalah termasuk orang spesial karena merupakan orang yang dipilih dari sekian banyak orang yang juga melamar beasiswa yang serupa. Selain itu, dapatnya dia beasiswa juga dapat mengakibatkan dia mendapatkan kesempatan langka mengunjungi negara luar.

Namun demikian, terdapat juga wajah lainnya. Yaitu, beasiswa ternyata juga dapat digunakan orang luar untuk mendapatkan informasi intelejen mengenai negara kita secara gratis. Gratis dengan artian mereka tidak perlu susah payah mengirimkan seorang agen atau analis untuk mengetahui langsung negara kita. Hal ini dikarenakan di akhir masa beasiswa atau masa kuliah i luar negeri ini, mereka seringkali mendapatkan tugas untuk menulis. Ada universitas yang mungkin dengan terang-terangan menyuruh mahasiswanya untuk menulis sesuatu tentang negaranya, namun ada pula yang tidak. Tetapi karena mahasiswa tersebut kurangnya bahan terhadap negara yang menjadi objek penelitiannya, maka akhirnya ya kembali lagi ke negaranya sendiri.

Dalam proses penelitian ini, seringkali, jika tidak mau dibilang kacangan, mereka melakukan studi, penelitian, serta analisis lapangan yang bisa dibilang komprehensif. Bahkan tidak sedikit pula para scholar (sebutan bagi mereka yang mendapat beasiswa di sana) yang kenal dekat dengan para staff berbagai instansi yang penting. Dan bahkan mungkin juga karena akses dia yang notabene anak orang berpengaruh di negaranya maka mendapatkan akses yang sangat mudah. Dengan demikian, dalam tulisan yang nantinya tersimpan di luar negeri tersebut, tersimpanlah berbagai dokumen yang secara lengkap membahas suatu negara langsung dari tangan pertama orang dari negara tersebut. Analisa mereka akan sangat dapat dipercaya karena analisis mereka merupakan gabungan antara pengalaman dia secara pribadi baik sosiologis, lingkungan, bahkan nilai-nilai yang dia dapat sejak dia masih kecil.

Wajah lainnya yang sangat penting adalah, dengan beasiswa ini sebenarnya merupakan juga proses doktrinasi terhadap para mahasiswa di sana untuk mendapatkan nilai-nilai baru yang mungkin ditanamkan ke dalam alam bawah sadar serta berpotensi akan diaplikasikan di kemudian hari bagi para mahasiswanya itu. Contoh paling konkrit dari hal ini sendiri adalah begitu paham liberal begitu merasuk ke dalam teman-teman kita yang belajar di negara lain. Hal ini juga sebenarnya juga telah diakui sendiri oleh George Soros, sebagai orang kaya, yang memiliki cita-cita terbentuknya masyarakat terbuka di seluruh dunia. Dalam bukunya "The Age of Faliability" jika tidak salah judulnya, beliau mengatakan bahwa sudah begitu banyak usaha-usaha yang beliau lakukan selama hidupnya dengan cara mengirimkan para anak-anak muda Afrika untuk belajar baik itu di eropa atau di Amerika secara gratis untuk kemudian menerapkan pengetahuannya di Afrika itu sendiri. Usaha ini beliau lakukan pada saat di Afrika begitu kentalnya politik apartheid di berbagai pemerintahan. Begitu juga usaha beliau di eropa timur. Dengan usahanya, beliau berusaha membawa ideologi pasar bebas dan masyarakat terbuka ke sana, yang sekali lagi dengan jalan untuk menjalankan suatu misinya di kemudian hari. Di Indonesia sebenarnya tidak berbeda jauh. Bahkan sekarang salah satu anak lembaga yang didirikannya telah berdiri di Indonesia, dan belum lama ini saya melihat mereka membuka kesempatan belajar di universitas di Inggris yang telah di tentukan, yang memang memiliki tradisi human rights ataupun juga pemikiran liberal yang kental.

Dengan berbagai muka atau wajah beasiswa ini sesungguhnya tidak heran kemudian apabila terjadi peristiwa Arab Springs. Yaitu dimana terjadi gelombang besar-besaran di daratan arab dan afrika, yang ingin menggantikan suatu sistem lama yang tidak sesuai dengan sistem demokrasi. Untuk mengetahui itu semua benar atau tidak, memang harus diadakan penelitian lanjutan yang mendalam kemudian apakah mereka yang menyulut lebih jauh peristiwa sosial yang terjadi di seantero arab tersebut memiliki keterkaitan dengan  beberapa tokoh yang pernah mengenyam pendidikan di negara-negara barat. Sedangkan fenomena masyarakat yang anarkis sudah tidak perlu diragukan lagi karena masyarakat yang mayoritas berpendidikan kurang, kurang secara ekonomi, dan juga memiliki tokoh yang sangat menonjol, akan gampang terprovokasi oleh tokoh tersebut.

Dengan berbagai wajah tersebut, akan sangat bijaksana apabila memang kita ingin pun pada akhirnya memperoleh beasiswa, untuk kemudian memikirkan tujuan dari beasiswa tersebut. Apakah sesuai dengan hati nurani kita dan hati nurani bangsa, ataukah justru hati nurani mereka...

Akbarecht

Teater Koma Dalam Antigoneo

Beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk melihat salah satu karya teater yang dibawakan oleh teater koma dalam karyanya yang ke-124. Karya ini diberi nama Antigoneo.

Antigoneo sendiri naskah aslinya merupakan karya Sophocles dengan judul asli Antigone. Naskah ini telah dimainkan sejak jaman Yunani Kuno. Kemudian, naskah yang sarat akan makna universal ini kemudian disadur oleh seorang Evald Flisar dalam karyanya yang berjudul Antigone now. Dan karyanya inilah yang kemudian disadur kembali menjadi Antigoneo.

Cerita ini berkisah mengenai kegigihan seorang wanita, seorang kakak yang begitu mencintai adiknya, yang telah meninggal dan terkubur di sebuah pemakaman tua. Pemakaman tua ini menjadi disorot oleh beberapa media massa terkait rencana pemindahannya ke tempat lain karena adanya keinginan suatu resort hotel untuk membangun fasilitas-fasilitas di atasnya. Namun di balik semua itu, ada satu orang wanita tersebut yang bernama klara, dengan gigih tetap menolak rencana tersebut dengan alasan-alasan yang tidak logis, dan lebih terdengar puitis. Kegigihannya tersebut membuat bingung pamannya, yang tidak lain adalah walikota di daerah tersebut karena sudah berjanji pada masa kampanyenya untuk meningkatkan perekonomian, menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Rakyatnya pun telah banyak yang mulai menanamkan saham di fasilitas hotel tersebut. Alkisah, akhirnya dengan berbagai cara, sang paman berusaha menyingkirkan keponakannya itu, bahkan dengan mengatakan ponakannya tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Cerita diakhiri dengan meninggalnya klara karena bunuh diri lompat dari jendela kamar rumah sakit jiwa.

Cerita ini menurut saya sungguh menarik. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa tidak menarik, tetapi bagi saya yang selalu berusaha mengetahui apa dibalik itu semua menangkap berbagai pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara ataupun mungkin sang penulis naskah itu sendiri.

Ada suatu perdebatan, gejolak batin yang ingin diperlihatkan. Dari lakon ini juga diperlihatkan dimana terjadi perbedaan antara penggunaan pemikiran logis dan dengan hanya menggunakan hati. Alasan yang disampaikan oleh pamannya sangat logis, tetapi alasan yang disampaikan oleh klara sangat puitis dan magis, bahkan bisa dibilang sangat ingin menguji, apakah kita masih punya hati?

Tata panggungnya walau minim hanya menggunakan satu panggung, tetapi sangat kaya akan simbol-simbol. Panggung didesain sangat detail. Ada simbol dewi-dewi yunani di atasnya. Selain itu, walau sangat minim, tetapi panggung tersebut sangat luar biasa karena para pemain bisa secara kaya melakukan improvisasi dan menggunakan semua fasilitas yang ada di atasnya.

Untuk komposisi lagu, lagu hanya dimainkan secara solo yang menggambarkan seorang gipsy dengan dua pengikutnya dengan hanya satu alat musik. Namun demikian, itu semua dapat mewakili keheningan yang timbul dari itu semua. Walaupun di akhir pertunjukan diselingi lagu ave maria yang terkenal karya schubert.

Untuk pemain, kekuatan pertunjukan kali ini memang di aktingnya. Klara sangat mengagumkan. begitu juga pemain lainnya.

Pencahayaan juga baik.

Di samping itu, kesan yang di keluarkan lewat kata-kata sekali lagi menjadi istimewa karena setiap pertunjukan teater koma ini ada saja kata yang tetap berbekas seperti halnya

"Maybe we are here not to understand each other, but to play our own role until the end and later say good bye" by Klara.


Akbarecht 

Tuesday, August 16, 2011

Mastodon Dan Burung Kondor..

Masih dalam suasana mengenang penyair W.S. Rendra, ada dua sajak yang bagus di masukkan juga ke dalam pementasan beliau yaitu mastodon dan burung kondor..jika bisa dibawakan dengan pas dan dihayati dengan mantap sungguh luar biasa kaya sajak ini..

Sajak Burung-burung Kondor
Karya: W.S. Rendra

Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi

Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon
Karya: W.S. Rendra

Pembangunan telah dilangsungkan
Di tanah dan di air sedang berlangsung perkembangan.

Aku memberi kesaksian
bahawa di sini
langit kelabu hambar dari ufuk ke ufuk.
Rembulan muncul pucat
seperti isteri birokrat yang luntur tatariasnya.
Sungai mengandung pengkhianatan
dan samudera diperkosa.
Sumpah serapah keluar dari mulut sopir teksi.
Keluh kesah menjadi handuk bagi buruh dan kuli.

Bila rakyat bicara memang bising dan repot.
Tetapi bila rakyat bisu itu kuburan.
Lalu apa gunanya membina ketenangan kuburan,
bila ketenangan hanya bererti kesesakan peredaran darah?

Aku memberi kesaksian
bahawa negara ini adalah negara pejabat dan pegawai.
Kebudayaan priyai tempoh dulu
diberi tambal sulam
dengan gombal-gombal khayalan baru.
Bagaikan para pengeran di zaman pra ilmiah
para pengeran baru bersekutu dengan cukong asing,
memonopoli alat berproduksi dan kekuatan distribusi.
Para pedagang peribumi hanya bisa menjual jasa
atau menjadi tukang kelentong.
Boleh menjadi kaya tetapi hanya mengambang kedudukannya.

Tirani dan pemusatan
adalah naluri dari kebudayaan pejabat dan pegawai.
Bagaikan gajah para pejabat
menguasai semua rumput dan daun-daunan.
Kekukuhan dibina
tetapi mobiliti masyarakat dikorbankan.
Hidup menjadi lesu dan sesak.
Ketenangan dijaga
tetapi rakyat tegang dan terkekang.
Hidup menjadi muram, tanpa pilihan.

Aku memberi kesaksian
bahawa di dalam peradaban pejabat dan pegawai
falsafah mati
dan penghayatan kenyataan dikekang
diganti dengan bimbingan dan pedoman rasmi.
Kepatuhan diutamakan,
kesangsian dianggap derhaka
dan pertanyaan dianggap pembangkangan.
Pembodohan bangsa akan terjadi
kerana nalar dicurigai dan diawasi.

Aku memberi kesaksian, bahawa:

Gajah-gajah telah menulis hukum dengan tinta yang munafik.
Mereka mengangkang dengan angker dan perkasa
tanpa bisa diperiksa,
tanpa bisa dituntut,
tanpa bisa diadili secara terbuka.

Aku bertanya:
Apakah ini gambaran kesejahteraan
dari bangsa yang mulia?

Aku memberi kesaksian
bahawa gajah-gajah bisa menjelma menjadi mastodon-mastodon.
Mereka menjadi setinggi menara dan sebesar berhala.
Mastodon-mastodon yang masuk ke laut dan menghabiskan semua ikan.
Mastodon yang melahap simen dan kayu lapis.
Melahap tiang-tiang listrik dan filem-filem import.
Melahap minyak kasar, cengkih, kopi, dan bawang putih.
Mastodon-mastodon ini akan selalu mebengkak
selalu lapar
selalu merasa terancam
selalu menunjukkan wajah yang angker
dan menghentak-hentakkan kaki ke bumi.

Maka mastodon yang satu
akan melutut kepada mastodon-mastodon yang lain.
Matahari menyala bagaikan berdendam.
Bumi kering.
Alam protes dengan kemarau yang panjang.
Mastodon-mastodon pun lapar
dan mereka akan saling mencurigai.
Lalu mastodon-mastodon akan menyerbu kota.
Mereka akan menghabiskan semua beras dan jagung.
Mereka akan makan anak-anak kecil.
Mereka akan makan gedung dan jambatan.

Toko-toko, pasar-pasar, sekolah-sekolah
masjid-masjid, gereja-gereja
semuanya akan hancur
Dan mastodon-mastodon masih tetap merasa lapar
selalu was-was.
Tak bisa tidur.
Yang satu mengawasi yang lain.

Aku memberi kesaksian
seandainya kiamat terjadi di negeri ini
maka itu akan terjadi tidak dengan petanda bangkitnya kaum pengemis
atau munculnya bencana alam
tetapi akan terjadi dengan petanda
saling bertempurnya mastodon-mastodon.

Djogja, 1973

Monday, August 15, 2011

Sajak-sajak anak muda..

Waktu menonton pertunjukan Mastodon dan Burung Kondor, suatu masterpiece karya W.S Rendra yang pernah dipentaskan di tahun 1973, ternyata di luar gedung teater terdapat juga pembacaan sajak-sajak beliau secara bebas..ada satu sajak yang pada saat itu saya kebetulan mendengar, dan lumayan terbawa suasana..

Sajak-sajak anak muda
Karya: W.S. Rendra

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi